Jumat, 29 Mei 2015

Kejahatan atau Dosa
            Kejahatan atau dosa merupakan suatu tindakan yang lahir dari dalam diri manusia. Dalam budaya paganis (tidak beriman) belum ditemukan istolah dosa yang secara jelas menggambarkan tindakan manusia yang menjauh dari Allah (cinta, pelayanan dan persaudaraan).[1]  Ketidakberesan hidup dipahami sebagai suatu situasi tidak harmonis atau tidak seimbang. Dosa menggambarkan sikap dan tindakan manusia yang melawan Allah. Dosa merupakan keburukan tertinggi. Keburukan dipahami sebagai absennya kebaikan. Dosa merupakan absennya kebaikan tertinggi yakni kesempurnaan Allah. Oleh karena itu dosa bukanlah disebabkan atau dihadirkan oleh Allah melainkan oleh pembelotan manusia terhadap kehendak  dam kebebasan untuk hidup baik. Demikianlah yang dipahami oleh umat Kristiani, bahwa dosa adalah pembelotan terhadap kehendak bebas. Sementara kaum paganis melihat dosa—ketidakharmonisan atau ketidakseimbangan hidup (kheos)—sebagai keterpisahan atau pembelotan terhadap kesadaran intelektual.
   Bagi Agustinus, dosa berakar dalam kehendak diri manusia dan ini merupakan misteri dosa. Dosa masuk ke dalam kebiasaan dan adat istiadat, kemudian berakar dalam ”pribadi“ yang rohani[2]. Munculnya dosa disebabkan karena manusia salah menggunakan kebebasannnya. Hal ini juga termuat  dalam  Kitab Kejadian Bab I yang mengisahkan tentang manusia yang diberi kebebasan untuk menguasai dunia tapi salah menggunakannya. Allah telah memberi manusia kehendak bebas supaya manusia tidak menyembah Allah karena terpaksa, bagaikan seorang budak, tetapi atas kemauannya sendiri, bagaikan seorang merdeka[3]. Dengan demikian, selalu saja  timbul pertanyaan mengapa kok di mana manusia hidup bersama, di situ ada pula kejahatan, perselisihan dan masalah−masalah yang sulit.
1.      Origenes
            Origenes dikenal luas karena pandangannya tentang eksistensi jiwa-jiwa manusia mendahului penjelmaan badani mereka, bahwa mereka ada pada awal penciptaan, dan cerita tentang kejatuhan dalam Kitab Kejadian merupakan alegori kejatuhan pra-kosmis dari para malaikat. Gagasan Origenes tentang pra eksistensi jiwa ditolak Gereja tetapi penekanannya atas kejatuhan sebagai sumber ketidaksempurnaan manusia diterima.[4]
            Origenes percaya bahwa Allah pertama-tama menciptakan suatu dunia dari makhluk-makhluk spiritual. Makhluk-makhluk itu menyembah Allah sampai kehabisan tenaga, kemudian mereka jatuh. Tergantung pada seberapa jauh mereka jatuh mereka berubah menjadi malaikat, setan atau manusia.[5] Pandangannya, bahwa jiwa-jiwa yang bersifat pra-ada yang telah jatuh dari hadapan Allah dan kemudian dipenjarakan dalam materi yang diciptakan,[6] pada akhirnya membawa ia pada pandangan negatif terhadap badan manusia yang merupakan salah satu contoh materi ciptaan itu.
            Bagi Origenes kejahatan adalah privatio (kekosongan, lubang) dan bukan yang secara positif ada. Dosa diakibatkan oleh manusia sendiri. Penyalahgunaan kebebasan memungkinkan manusia untuk tidak setia kepada Allah (berdosa). Dan karena jiwa manusia tidak setia kepada Allah maka jiwa itu tertambat di badan. Badan dilihat sebagai sesuatu yang negatif. Namun baginya, meskipun berada dalam dosa manusia yang merupakan makhluk ciptaan Allah bisa kembali kepada Allah oleh karena anugerah ciptaan itu. Di sini ia menawarakan  beberapa jalan agar manusia bisa bebas dan terlepas dari dosa atau kejahatan yang telah mereka lakukan,  yakni dengan jalan: Mati raga, mengarahkan diri pada hal-hal rohani, melalui filsafat, dan masuk dalam dunia rohani.
2.      Agustinus  
Ketidakadilan : asal kejahatan dan dosa
    Ketidakadilan muncul karena orang tidak terbuka satu sama lain. Setiap manusia memiliki sikap iri dan hal ini menjadi titik tolak timbulnya kejahatan dan dosa. Bagi Agustinus, ketidakadilan dapat diidentikan dengan kesombongan. Orang yang sombong selalu menunjukkan bahwa dialah orang yang berkuasa. Hal ini menyebabkan ia selalu merasa bahwa dialah orang yang hebat dan tidak dapat diganggu gugat oleh orang lain.
Dalam Regula Santo Augustinus, kita dapat menemukan penjelasan tentang kerendahan hati dan kesombongan. Kesombongan adalah pelawan besar dari kerendahan hati. Kesombongan bukanlah hanya suatu kekurangan di antara sekian banyak kekurangan lain, melainkan suatu keburukan dasar. Augustinus juga melukiskan kesombongan itu sebagai ”asal dan permulaan dari segala dosa“. Menurut Augustinus, setiap keburukan menjadi nyata dalam melakukan perbuatan−perbuatan yang buruk, akan tetapi kesombongan malah merusak perbuatan−perbuatan yang baik. Yang dimaksudkan ialah, kesombongan merupakan suatu daya penghancur. Siapa yang menyombongkan diri atas sifat−sifat pribadi, prestasi−prestasi dan kehebatannya sendiri, tentunya menganggap dirinya lebih baik dari orang lain[7].
Kehendak, Kebaikan dan Kejahatan (Good and Evil)
Menurut Agustinus, manusia mempunyai kehendak yang sifatnya bebas, yaitu untuk mengarahkan diri kepada Tuhan atau menjauhkan diri dari Tuhan. Dengan kata lain kehendak manusia untuk mengarahkan diri kepada Tuhan atau menjauh adalah bentuk dari kebebasan yang ada dalam kehendaknya. Dengan demikian, Agustinus berpendapat bahwa kesempurnaan moral terdapat dalam cinta akan Tuhan. Artinya mengarahkan semua kehendak dalam diri kepada Tuhan. Jika mengikuti kehendak Tuhan, adalah kebaikan, maka kejahatan adalah sebuah tindakan yang menjauhkan diri dari apa yang menjadi kehendak Tuhan. Seseorang yang menjauhi Tuhan, berarti melanggar pula hukum ilahi.
 Bagi Agustinus, pada intinya kejahatan merupakan kekurangan dari kebaikan yang seharusnya ada (Evil is the absence of a good that should be there). Agustinus membagi kejahatan dalam dua bentuk, kejahatan fisik dan moral. Dari kedua kejahatan itu, kejahatan morallah yang menjadi sesuatu yang sungguh buruk atau nyata. Kejahatan tidak bisa berasal dari sesuatu yang positif, Tuhan. Menurut St. Agustinus, kejahatan moral ada karena kehendak bebas dari manusia. Namun, hal itu tidak bearti bahwa Tuhanlah yang menjadi penyebab kejahatan, karena telah menciptakan kehendak. Dalam kehendak yang menjauh dari Tuhanlah kejahatan itu muncul. Karena ketika kehendak tidak mengarah kepada Tuhan terjadilah ketidakteraturan. Dalam ketidakteraturan itulah Agustinus menyebutnya sebagai kekurangan dari kebaikan[8].
Maka bisa kita simpulkan bahwa dosa itu sesungguhnya merupakan sebuah kekurangan dari sebuah keteraturan. Lebih lanjut dalam hubungannya dengan kebenaran, adalah bahwa ketika mencintai dosa, kita sesungguhnya mencintai kebaikan yang lebih rendah. Dalam buku Confessiones, Agustinus menjelaskan bahwa indera-inderalah yang paling sering memberikan godaan terhadap manusia untuk berdosa. Mulai dari godaan syahwat, selera, kemabukan, kerakusan, penciuman, pendengaran, dan penglihatan. Selain itu, terdapat dua godaan lagi, yaitu rasa ingin tahu dan kekuasaan. Keingintahuan adalah semacam keinginan hasil dari pengetahuan dan pengalaman demi kepentingan diri sendiri.
3.      Bothius
            Karya Boethius terakhir yang paling terkenal dan ditulis sewaktu ia terakhir kali dipenjarakan ialah De Consolatione Philosophiae (hiburan dari Flsafat). Karya ini pendek saja dan terdiri dari 5 jilid. Ia menulisnya dalam bentuk dialog antara Boethius dan seorang perempuan, bernama Filsafat.[9] Tujuan diterbitnya buku ini karena ia ingin mengetahui apa sebabnya sehingga jiwa terasa terasing dari badan. Dan dalam buku inilah ia menemukan jawabannya. Di mana perempuan yang bernama Filsafat menjelaskan bahwa persoalannya bukan karena ia diusir dari rumahnya tetapi karena ia telah mengembara menjauhi dirinya.
Dalam De Consolatione Philosophiae ini kita akan menemukan dua gagasan pokok yaitu: kebahagiaan sejati serta kejahatan dan penyelenggaraan ilahi serta kebebasan manusia. Di sini kami akan fokus pada tema kebahagiaan sejati dan kejahatan.
            Dalam De Consolatione Philosophiae, khususnya buku ketiga Boethius dan Filsafat membicarakan hakekat kebahagiaan yang sejati. Mereka sadar bahwa hanya Allah yang dapat memberikan kebahagiaan sejati. Kesulitan manusia ialah bahwa “alam puas dengan sedikit saja, sebaliknya tidak ada yang memuaskan keserakahan”.[10] Kebahagiaan tidak terdiri dari  harta milik tetapi terletak di dalam batin. Kebahagiaan sejati adalah keadaan terintegrasinya segala sesuatu dengan sempurna. Kebahagiaan itu sempurna dan tidak terdapat dalam sesuatu yang duniawi. Atas dasar itu juga akhirnya ia mempertanyakan kejahatan yang meraja lela oleh sebab perebutan kekuasaan. Bagi mereka kekuasaan adalah sumber kenahagiaan dan sumber kegembiraan.
             Dalam permenungannya ia mengatakan bahwa sesungguhnya orang jahat tidaklah berkuasa karena mereka tidak mampu menguasai dirinya sendiri melainkan dikuasai oleh nafsu. Setiap kali terjadi ketidakadilan dan kejahatan, yang lebih sengsara adalah yang melakukannya daripada yang mengalaminya. Orang yang melakukan kejahatan dan berkuasa akan semakin tidak bahagia.[11]Dalam buku keempat, Filsafat dihadapkan pada keberatan yang diutarakan Boethius. Bagaimana mungkin kejahatan terjadi terus tanpa ada hukuman di dalam dunia yang dkuasai oleh Allah  yang baik yang Mahatahu dan Mahakuasa? Filsafat tidak menolak bahwa Allah mahakuasa. Takdir, yaitu akal ilahi, mengandalkan segala sesuatu. Ini terlaksana menurut keadilan, biarpun kehidupan ini kelihatan tidak adil. Orang baik dianugerahi nasib baik atau ditertibkan oleh nasib buruk selama takdir menganggapnya perlu. Orang jahat ditertibkan oleh nasib buruk sedangkan nasib baik tidak membawa kebahagiaan sejati[12], jadi:
Semua nasib, apakah dia baik atau buruk dimaksudkan untuk memberi ganjaran atau untuk menertibkan orang baik dan menghukum atau mengoreksi orang yang jahat. Oleh sebab itu, kita setuju bahwa nasib itu adil dan berguna. Jadi semua nasib itu baik.[13]  
4.      Boneventura
Bonaventura dalam menjelaskan tentang akar kejahatan dan dosa dengan mendasarkan pandangannya pada peran hati nurani manusia. Baginya, hati nurani menjadi penentu kebebasan manusia untuk melakukan suatu tindakan. Dalam pengertian moral, hati nurani pada hakikatnya adalah kemampuan manusia untuk melihat ke dalam dirinya, dan membedakan apa yang baik dan apa yang buruk atau kesadaran tentang yang baik dan yang buruk . Di sisi lain, terlepas dari segala kekurangan dan cacatnya, manusia adalah mahluk yang mampu menentukan apa yang baik yang mesti dilakukan dan sekaligus juga membuat keputusan yang matang berdasarkan pertimbangannya tersebut.
Lebih jauh, Bonaventura mengelompokkan hati nurani manusia dalam dua bagian. Pertama, bagian dari hati nurani yang secara alamiah bisa sampai pada kebenaran-kebenaran dasar dalam hidup manusia, seperti kebenaran yang terkandung pada perintah-perintah moral dasar, misalnya konsep dasar tentang sikap hormat pada orang tua, tidak mencuri, dan lain-lain. Kedua, hati nurani memiliki kemampuan untuk menerapkan perintah-perintah moral dalam konteks kehidupan sehari-hari. Bagian kedua ini juga merupakan bagian yang alamiah dari hati nurani manusia. walaupun bisa mengalami kesalahan karena berbagai hal, seperti kurangnya informasi, ataupun kesalahan penarikan kesimpulan di dalam berpikir. Dua hal ini yang menurut Bonaventura menjadi akar dari kejahatan dan dosa.
Bertitik tolak dari dua bagian hati nurani tersebut, Bonaventura menegaskan bahwa manusia perlu terus untuk mengembangkan kepekaan hati nuraninya. Yang menjadi tekanan bagi Bonaventura terutama pada bagian kedua. Hal ini dimaksudkan agar hati nurani tidak terjebak pada perilaku-perilaku jahat. Oleh Karena itu, hati nurani  perlu mengumpulkan informasi sebanyak mungkin sebelum membuat keputusan-keputusan penting dalam hidupnya. Hal ini begitu penting karena tidak hanya menyangkut diri sendiri, tetapi juga berdampak pada orang lain. Hati nurani perlu juga berlatih berpikir logis, kritis, reflektif, dan analitis di dalam memahami dunia, sehingga tidak terjebak dalam penarikan kesimpulan yang salah . Dalam arti ini, menurut Bonaventura, hati nurani manusia adalah sesuatu yang dinamis, yang bisa berkembang seturut dengan upaya dari manusia terkait. Dengan kata lain, apabila tidak diasah, hati nurani bisa saja keliru sehingga muncullah kejahatan dan dosa.
5.      Thomas Aquinas
            Menurut Thomas Aquinas kejahatan (malum) dilakukan oleh mereka yang tidak percaya kepada Allah. Orang melakukan kejahatan ketika mereka meniadakan Allah dalam kehidupan mereka. Jika kita percaya Allah itu ada, pengandaiannya segalanya tidak mungkin tercipta tanpa kehendak Allah. Allah adalah sumber baik itu sendiri. Ia identik dengan sang baik. Jika begitu, dari mana asalnya kejahatan? De facto, kejahatan ada dalam kehidupan sehari-hari, entah berupa bencana yang memorak-porandakan kehidupan maupun aktivitas manusia yang menghantam sesamanya. Jika kejahatan de facto ada, kejahatan tak mungkin berasal dari Allah. Karena malum ada, maka Allah tidak ada. Di sinilah mulailah “disposisi sulit” untuk percaya kepada Allah, sebab kejahatan ada dalam kehidupan sehari-hari. Aquinas memberi pemecahan demikian, “kejahatan” tidak bisa menjadi lawan dari eksistensi Allah. Artinya “kejahatan” itu bukan negasi dari realitas Allah sebagai Sang Pencipta. Sebab, Allah adalah segalanya. Tidak ada apapun di luar Allah. Segalanya ada dan tercipta oleh kehendak-Nya. Menurut Aquinas kejahatan adalah privasi dari kebaikan. Istilah “privasi” untuk mengatakan bahwa kejahatan itu merupakan realitas kekurangan kebaikan atau tercabutnya kebaikan. Thomas Aquinas seperti Sokrates percaya bahwa manusia tidak mungkin melakukan perbuatan (jahat) dengan tujuan jahat. Sebuah kejahatan dikerjakan selalu dengan maksud “baik”. Tetapi maksud baik didefinisikan secara salah oleh pelaku. Kesalahpahaman inilah yang oleh Aquinas disebut “privasi” kebaikan, dan oleh Sokrates dikatakan sebagai “alasan” pentingnya pendidikan.[14]  
 Di samping itu, St. Thomas Aquinas juga menjelaskan bahw, “setiap tindakan dosa keluar dari keinginan yang tak terkendalikan dari suatu kebaikan yang dapat berubah itu. kenyataan bahwa seseorang mengingini secara berlebihan suatu kebaikan  yang bersifat sementara disebabkan oleh fakta bahwa ia mencintai dirinya secara berlebihan.[15] St. Thomas tampaknya percaya bahwa setiap pilihan akan suatu kebaikan yang lebih rendah sebagai pengganti yang lebih besar muncul dari motif kepentingan diri sendiri. Rupanya, St. Thomas malihat dosa sebagai hasil dari kelebihan penyembahan terhadap diri yang akhinya menghasilkan cinta diri yang tinggi atau egoisme.
6.      Anselmus
Anselmus adalah seorang filsuf yang pertama-tama hendak menekankan ajaran tentang pembuktian keberadaan Allah dalam ajarannya tentang Monologium dan Proslogium. Monologium memberi pejelasan tentang adanya Allah berdasarkan kajian aposteriori. Sementara itu, Proslogium  Anselmus menjelaskan bahwa Allah adalah sesuatu yang lebih besar  daripada yang tidak dapat dipikirkan lagi[16]. Dia juga mengembangkan ide tentang kebenaran dan beberapa dasar pemikiran Agustinus. Secara umum, pemikiran Anselmus mengacu pada pemikiran-pemikiran Agustinus, termasuk dalam hal seluk-beluk kejahatan.
Mengenai kejahatan, ia menemukan dua istilah penting dalam diri manusia : kebebasan (libertas) dan kehendak bebas. Libertas atau kebebasan adalah kebaikan absolut yang tidak mungkin tercampuri oleh dosa dan kejahatan. Sedangkan kejahatan itu berasal dari penyalahgunaan kehendak bebas (potensi manusia) dalam bertindak. Manusia seharusnya mencapai libertas kalau mau menggunakan kehendak bebasnya untuk melakukan sesuatu yang baik. Dia akan kehilangan libertasnya kalau menggunakan kehendak bebasnya untuk sesuatu yang jahat[17].
Jika dilihat secara menyeluruh, akan tampak bahwa filsafat Anselmus pertama-tama berasal dari St. Agustinus yang banyak mengandung unsur-unsur Platonis. Ia percaya dengan ide-ide Plato, yang darinya ia membangun eksistensi Tuhan. Dengan argumen-argumen Plato ia ingin membuktikan bahwa Tuhan dan Trinitas sungguh-sungguh ada. Anselmus menganggap akal lebih rendah kedudukannya dari iman. Credo ut intellegam. Ia mengikuti Agustinus. Dia berpendapat bahwa tanpa percaya, kita tidak mungkin memahami.[18]Anselmus berusaha menyelidiki misteri iman. Maka, refleksinya bercorak rasional. Filsafat teologi merupakan intellectus  fidei (penyelidikan rasional terhadap iman). Ia sangat yakin akan kebenaran iman Kristen. Akan tetapi ia sangat tertantang untuk menggunakan akal budinyauntuk memahami secara mendalam misteri iman dan memperoleh kebenaran iman yang lebih penuh.[19]          





[1] F. AMERIO, Lineamenti di Storia della Filosofia, 112
[2] Haight, Roger, Teologi Rahmat Dari Masa ke Masa, Nusa Indah, Ende, 1999, 55
[3] Van Den End, Th, Augustinus−Pengajaran Pertama Kepada Para Calon Anggota Gereja, Kanisius, Yogyakarta, 2003, 56
[4] Linwood Urban, Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen, Jakarta, Gunung Mulia, 2006, 177
[5] Linda Smith dan William Raeper, Ide-ide Filsafat dan Agama Dulu dan Sekarang,  Yogyakarta, Kanisius, 2000,  160
[6] Benhard Loshe, terj. A. A Yewangoe, Pengantar Sejarah Dogma Kristen, Jakarta, Gunung Mulia, 2008, 133
[7] Augustinus dari Hippo, Regula untuk Persekutuan, terjemahan dari judul asli : Augustinus van Hippo, Regel voor  de Gemeenschap, diterjemahkan oleh Bruder Innocentio F.I.C, Kanisius, Yogyakarta & Nusa Indah, Ende, 1984, 48 
[8] Ratulayn, Kristoforus Aurelius Sri, Kajian Moral Menurut Aurelius Augustinus dalam Confessiones, 22
[9] Tony lane, terj. Conny Item-Corputy, Runtut Pijar Sejarah Pemikiran Kristiani, Jakarta, Gunung Mulia, 2007, 79
[10] Tony lane, Runtut Pijar Sejarah Pemikiran Kristiani, 80
[11] Bdk. CB Mulyatno pr, Manuskrip Perkuliahan, Alam Pikir Medieval, yogyakarta, 29
[12] Tony lane, Runtut Pijar Sejarah Pemikiran Kristiani, 80
[13] De Consolatione Hiburan 4:7
[14] Armada Riyanto, Menjadi- Mencintai: Berfilsafat Teologis  Sehari-hari, Kanisius, Yogyakarta, 2013, 135-136. 
[15] Linwood Urban, terj. Liem Sien Kie, Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen,Gunung Mulia, Jakarta, 195-196
[16] F. Coplestone, History of Philosophy: Medieval Philosophy, Image Books, New  York 1962, 183
[17] C.B. Mulyatno, Diktat Alam Pikir Medieval, FTW, Yogyakarta, 35
[18] S. Djatmiko dkk, Sejarah Filsafat Barat, diterjemahkan dari  History of Western Philosophy and its Connection with Political and Social Circumstances from the Earlist Time to the Present Day, Pustaka Pelajar, Yogyakarta 2007, 556
[19] C.B. Mulyatno, Diktat Alam Pikir Medieval, FTW Yogyakarta, 33